March 7, 2008
Pak Soni oh Pak Soni | # |
About me, My Friends, Others — Administrator @ 9:37 am
Guru piano Rahma dan gue namanya pak Sony. Kira-kira umurnya 30an, udah punya anak kelas 1 SD, dan menurut Rahma (menurut Rahma lho ya) romantis juga sama istrinya. Ha!
Pak Soni ini maen piano jagooooo banget. Bikin Rahma ama gue drooling ngedengerin permainan pianonya. Apalagi pas dia maen lagu “Pelangi” di hari pertama les piano kami.
Tapi, kemaren ini, gue rada sebel sama dia. Karena tiba-tiba aja, dia nyuruh gue latihan jari yang waaaaaaaaay ahead kemampuan gue. Trus, dia juga nyuruh gue latihan kord, sekalian sama lagunya si Mr. Flintstone itu. Ga tanggung-tanggung: ga pake partitur!
Bodoh! Gue itu kan baru kelas 0. Iya, biarpun kelas 0 besar (setingkat di atas Rahma yang kelas 0 kecil), tetep aja kan namanya kelas 0!
Pas gue misuh-misuh ke Rahma, Rahma bilang mungkin karena pak Soni berpikiran gue mampu. Weleh! Ini dia nih perasaan OJ waktu bosnya nge-push dia lantaran bosnya berpikiran dia mampu. Emang sih, Rahma ada benernya: Take it as a challenge. Tapi kan, itu artinya gue kudu ekstra keras. Kalo selama ini gue latihan minimal 1 jam sehari, besok-besok gue pasti kudu latihan minimal 2 jam sehari. Itu juga belon jaminan bisa. Tapi, karena Rahma tau kondisi badan gue yang ga fit gara-gara mo flu ini, dia juga bilang sepertinya gue lagi bad mood aja.
Hari ini tenggorakan gue sakit dan badan gue agak panas. Tapi tetep aja otak gue ga bisa jauh-jauh dari lagu si Flintstone itu. Browsing partiturnya ga nemu-nemu. Akhirnya duduk di depan keyboard buat nyari nadanya. Bisa juga. Tinggal ngelancarin ama latihan kord-nya. Sebulan kira-kira bisa ga ya? Gue kan pengennya dah bisa maenin lagu orang gua itu kalo gue dah punya piano…
February 4, 2008
Jakarta (baca: Kelapa Gading) banjir lagi!
Keberlimpahan adalah suatu hal yang patut disyukuri. Apapun itu. Hari Jumat tanggal 1 Februari lalu, ada satu keberlimpahan lagi di Jakarta. Air hujan yang turun tidak henti dari malam sebelumnya mampu menghadirkan banjir yang konon kabarnya hanya akan menyambangi Jakarta setiap 5 tahun sekali.
Mungkin hal ini adalah upaya Tuhan untuk meluruskan mitos dan takhyul tentang banjir 5 tahunan itu dan kembali pada kepercayaan bahwa hanya Tuhan-lah yang menguasai alam semesta.
Jam 8 kurang gue dah berangkat ke kantor. Sengaja pagi-pagi karena tiap hari Jumat gue selalu ngantor setengah hari, lantaran musti jemput Ameera di Depok. Meskipun kali di depan apato masih dalam batas yang ‘aman terkendali’ entah kenapa pagi itu jalanan macet sekali. Alhasil perjalanan ke kantor yang biasanya ditempuh dengan waktu 30 menit memerlukan waktu yang lebih dari 1 jam.
Hujan tak juga reda. Jam 11, ketika hampir memutuskan pergi ke Depok, gue dapet kabar bahwa Kelapa Gading dah mulai banjir. Ga ada pilihan lain, selain berusaha pulang. Genangan air di jalan depan kantor sudah mulai tinggi. Agak aneh, karena tahun lalu, ketika banjir berkunjung ke ibukota, jalan di depan kantor termasuk jalan yang tidak dikunjungi.
Kelapa Gading sudah ga bisa diakses dari arah Pulo Mas. Arah Kodamar dan Sunter juga rupanya sudah tak mungkin. Gue berusaha jalan lewat Plumpang. Macet sekitar 1,5 jam di situ. Padahal daerah Plumpang boleh dibilang tak tergenang air. Akhirnya, gue berhasil belok ke Semper yang juga kering. Mencoba menuju Kelapa Gading dari arah Pegangsaan Dua yang juga masih terbilang kering. Tapi, ketika memasuki Gerbang Timur Kelapa Gading, air nampaknya sudah lebih dulu bercokol di sana. Banting setir, cari jalan alternatif. Belok kanan, belok kirim, menerobos banjir, doa-doa ga putus, ‘Tuhan, ijinkan aku memarkir mobil di MAG.’ Sangat spesifik.
Jam 15:00 alias jam 3 sore, sampai juga gue di jalan sebelah MAG. Hati udah sedikit lebih tenang. Bos besar kantor yang tadi gue telpon menelpon balik. Katanya dia udah ngungsi di hotel. Syukurlah dia gapapa. Mengingat rumahnya langganan si banjir ini. Karena macet, setengah jam kemudian baru bisa markir mobil di MAG. Ga tanggung-tanggung, si Mei-mei langsung gue parkir di lantai 5.
Setelah sempet beli perbekalan makanan dan beli sendal jepit (sayang kan, kalo sepatu kantor kebasahan), gue naek ojek dengan gagah perkasa ke McD untuk menjemput Azka yang udah lebih dahulu terjebak di situ lantaran mobil anterannya udah ga bisa melewati jalan Boulevard lagi. Untungnya dia ga sendiri di situ. Empat orang temannya juga masih terjebak di situ.
Waktu sang ojek memberhentikan motornya di depan McD, gue langsung berteriak ceria, “Azka! Wawi laper!” Hehehehe…
Bagaimana ga laper, dari pagi hingga jam 16:30 a.k.a. setengah lima perut baru terisi nasi goreng-nya Melfi yang untungnya sempet masuk sebelum jam 10 pagi.
Perut udah terisi. Tinggal memikirkan cara untuk pulang ke apato. Jalan kaki! Ga bisa lain. Azka juga akhirnya teryakinkan kalo banjir itu ya, cuma air. Ga lebih. Dengan memegang tangan Azka erat-erat, gue menyebrang jalan Boulevard dari McD ke arah ruko seberangnya. Lha bukannya mo menerjang banjir? Ah, kalo ada jalan yang kering, kenapa juga musti becek-becekan? Hehehehe… Jadi, sebenernya, Azka dan gue cuma nyemplung ke air 2 kali. Sekali waktu nyebrang ke ruko, dan sekali lagi waktu nyebrang jalan di depan apato. Selebihnya, ya cari jalan yang ga basah dong ah…
Sampe di apato kami berdua langsung masuk kamar mandi dan melakukan skenario yang sudah dirancang sebelumnya. Berendem larutan Detol! Entah bener atau karena sugesti, gatal-gatal yang sempet berasa di kaki langsung hilang setelah berendam slama 10 menit. Selamaaaat…
Setelah menelpon Nenek-nya Azka bahwa kami baik-baik saja, kami berdua berdiri di balkon dan memandangi lautan air coklat di bawah yang membuat hampir semua orang kerepotan. Mengingat bahwa kami juga tadi berada di bawah sana, kami tertawa, bersyukur bahwa kami masih bisa tetap menikmati saat-saat sulit bersama.
September 22, 2007
Dunia yang penuh kejutan | # |
Others — Administrator @ 2:51 pm
Selain dunia ini berputar, dunia ini ternyata penuh kejutan.
Dua hari yang lalu sewaktu gue sendirian ke ITC Cemas, gue kudu buka puasa sendirian. Gue masuk ke salah satu resto yang ada di situ yang ternyata penuh nuh nuh nuh. Setelah ngantri cukup lama dan ngebatalin puasa pake butiran nasi, gue akhirnya diminta duduk bersama seorang perempuan yang gue ga kenal. Itu cuma karena dia makan sendiri dan bangku di depannya kosong. Ya sudahlah, namanya juga emergency.
Awalnya basi banget. Senyum-senyum sambil nawarin makan yang basa-basi. Iya lah. Mana rela gue kalo makanan gue beneran diambil. He…he…he… Lalu kami berdua makan dengan hikmat dalam diam, mengutamakan untuk memenuhi tuntutan perut. Setelah makanan di piring mulai kosong. Iseng-iseng gue melontarkan pertanyaaan yang ga kalah basinya: “Kantornya di sini?”
Dari satu pertanyaan iseng itu pembicaraan mulai mengalir. Terlebih lagi setelah anggota meja sebelah yang kebeneran mendengar alamat rumah Dety, nama perempuan itu, ikutan nimbrung. Meja sebelah dihuni sepasang mahasiswa Trisakti semester 4, Angga dan Ida. Lalu pembicaraan mulai merambah ke ranah pribadi: curhat gebetan! Ha….ha…ha… Perbincangan seru ke-empat orang ‘asing’ ini akhirnya harus berakhir dengan pelototan pramusaji yang melotot sambil modar-mandir gara-gara dia ga rela pengunjung yang udah selesai makan tetap duduk di tempatnya lebih dari 30 menit!
Aneh, unik, tapi ternyata membahagiakan. Karena udah lama gue ga ngerasa hal yang seperti ini. Orang Indonesia kan kudunya (karena terkenal) ramah tamah. Tapi setiap kali kita ketemu orang yang ga dikenal kita pasti pasang tampang curiga. Hari itu, gue merasa, beginilah seharusnya orang Indonesia. Bertegur sapa, saling memberikan ruang untuk hadirnya orang baru dalam kehidupan kita. Memang, selagi kita masih hidup, akan ada aja kejutan. Dan kejutan yang satu ini benar-benar menyenangkan.
August 8, 2007
Pilkada DKI | # |
Others — Administrator @ 2:32 pm
Hari ini adalah hari yang akan tertulis di dalam sejarah kota Jakarta. Pada hari ini diadakan pemilihan kepala daerah a.k.a. gubernur secara langsung oleh seluruh warga. Bukan oleh DPRD. Dari beberapa hari lalu, gue memastikan bahwa gue akan ikut ambil bagian dalam pilkada ini. ‘Ngotot banget sih?!’ komen Mak gue. Ini bukan masalah ngotot-ngototan. Masalahnya, hari ini hanya terjadi satu kali. Dan apa yang ada hari ini ga boleh disia-siain. Seperti kata orang-orang bijak, hari ini adalah ‘present’ alias hadiah. Jadi, kalo nerima hadiah, kudunya mah gembira atuh…he…he…he…
April 14, 2007
Nagabonar Jadi 2 | # |
Others — Administrator @ 3:32 pm
Menonton di bioskop buat gue adalah suatu kemewahan. Suatu hal yang jarang banget gue lakukan, kecuali kalo gratis sambil ngejalanin tugas. Jadi, kalo sampe kejadian, gue bener-bener berharap bahwa film yang bakal gue tonton itu bisa membuat gue mengangkat jempol 
Setelah memutuskan akhir minggu ini jadi akhir minggu berdua tanpa anak-anak, suami dan gue akhirnya punya waktu buat ngelakuin hal-hal yang jarang bisa kami lakukan, terutama kalo hari kerja. Seperti pergi ke bioskop itulah. Apalagi beberapa minggu sebelum ini gue dapet beberapa imel yang membuat gue pengen banget tau, kaya’ apa sih, megablitz itu. Sampe sana, ternyata pilihan fim-nya emang banyak banget. Setelah ngeliat2 poster film yang ada, akhirnya pilihan dijatuhkan pada Nagabonar Jadi 2.
Kalo menurut gue, film ini adalah film cinta. Yup, film cinta. Tapi bukan cinta monyet atau cinta gampangan anak-anak muda sekarang. Cinta dalam film ini adalah cinta yang lebih besar lagi. Cinta seorang lelaki pada ibu, istri, sahabat, serta anak satu-satunya yang dia besarkan sendiri sejak anak itu dilahirkan karena ibunya langsung meninggal sesaat setelah melahirkan. Saking cintanya pada anaknya, dia sampe akhirnya merelakan makam ketiga orang yang dicintainya untuk dipindahkan. Meski dikatakan dengan genangan air mata di sudut mata. Bukan itu saja, lelaki ini juga begitu cinta pada negaranya, sehingga ketika anaknya akan melakukan kerjasama dengan negara asing yang dulunya berstatus penjajah, dia merasa seperti akan mengkhianati negaranya sendiri. Sang anak juga bukan si malin kundang. Dia juga cinta sang ayah, juga cinta pada seorang perempuan yang selama ini selalu memberinya saran. Celakanya, sang ayah dan anak sama-sama punya kekurangan dalam mengungkapkan cinta secara verbal pada perempuan pilihan mereka.
Deddy Mizwar yang bertindak sebagai sutradara dan pemeran utama dalam film ini pandai mengaduk-aduk perasaan orang. Saking pinternya, beberapa kali gue nangis. Padahal sejatinya film ini bukan film drama percintaan, tapi film komedi. Tora Sudiro sebagai anak juga lumayan bagus. Beberapa juga aktris dan aktor pendukung yang lainnya. Hampir semua bermain natural. Kritik mungkin diberikan pada Uli Herdinansyah yang berperan sebagai Ronnie, salah seorang tangan kanan Bonaga (anak Nagabonar) yang bermain sedikit over. Bahkan Jaja Miharja yang berperan sebagai bencong juga patut diacungkan jempol atas aktingnya yang bisa bikin orang-orang normal jijay 
Adegan kesukaan gue adalah ketiga Nagabonar mempertanyakan kenapa bajaj dilarang memasuki jalan Sudirman-Thamrin pada seorang polisi yang ga bisa menjawab alasan pelarangan itu. Meski ada beberapa adegan yang ga masuk akal - misalnya kenapa ga ada polisi yang langsung nyuruh Nagabonar turun dari patung Jendral Sudirman yang ada di jalan Sudirman itu, secara keseluruhan film ini boleh dikatakan berhasil menceritakan cinta itu sendiri. Satu film dengan tema yang sama dengan film-film Indonesia yang sedang beredar saat ini, namun dengan cerita dan kedalaman makna yang jauh berbeda. Salut buat Deddy Miswar!
April 3, 2007
Mayumi | # |
Others — Administrator @ 6:00 am
Kucing gue si Mayumi emang rada-rada ajaib. Dia itu anak si Hatori yang nomor 2, adiknya Kenji. Sejujurnya, gue ga ngarepin kehadirannya. Boleh dibilang, dia agak tercuekan selama ini. Itu juga ada sejarahnya.
Dulu waktu Hatori udah hamil rada gede, gue pengen banget punya kucing warna kopi susu. Bahkan gue bilang sama Hatori, kalo anaknya cowok, gue bakal kasih nama Kenji. Kenji itu nama jagoan di komik yang judulnya Kenji - seorang kenshin, alias pe- kendo. Begitu lahir - setelah ditunggui selama 2 jam - ternyata anak Hatori yang pertama adalah cowok dengan warna kopi susu. Bayangkan perasaan gue waktu itu! Langsung aja gue teriak ‘Kenji!’. Trus langsung gue tidur saking leganya… Dua jam kemudian, gue dibangunin dan dikasih tau bahwa Hatori punya anak 1 lagi yang warnanya… belang. Ha…biasa banget deh. Gue males deh mikir namanya apa. Nama Mayumi diberikan sama suami gue, biar agak mirip-mirip anggota keluarga berbulu lainnya yang rata-rata punya nama Jepang.
Setelah Kenji, Hatori dan kucing-kucing lainnya ga ada, jadilah si Mayumi ini satu-satunya kucing di rumah gue. Saking sebelnya sama gue, dia suka melarikan diri kalo gue pegang. He…he…he… ternyata kucing bisa sakit hati juga ya. Lantaran ga ada pilihan lain, kucing belang satu ini terpaksa diselundupkan ke apartemen gue. Nah, yang lucunya, beberapa kebiasaannya jadi berubah.
1. Makanan.
Biasanya Mayumi paling seneng sama ikan goreng. Itu juga musti ikan selar yang digoreng garing. Ga boleh kegosongan! Setelah pindah ke apartemen, selera makannya berubah. Dia lebih seneng Friskies!
2. Tempat tidur.
Mayumi biasanya suka tidur di atas kursi. Pernah dibelikan keranjang khusus buat dia, tapi dulu dicuekin. Sekarang, dengan nyamannya dia tidur di dalam keranjang!
3. Tempat menancapkan cakar.
Waktu di rumah dulu, yang jadi sasaran cakar Mayumi adalah kursi hijau di ruang tengah, sepatu kulit siapa aja yang nganggur, atau tas yang tergeletak di kursi. Sekarang, dengan rajinnya dia menancapkan cakar-cakarnya di scratching post-nya yang gue beliin seharga 99 ribu rupiah!
4. Tempat buang air.
Masih kebayang waktu di rumah dulu, si Ana suka teriak-teriak marahin Mayumi lantaran buang air sembarangan. Begitu pindah ke apartemen, dia langsung tau kalo sandbox dengan pasir beraroma lavender itu emang disedianin buat dia.
Sepertinya Mayumi sadar banget sekarang dia tinggal di mana. Jadi, gaya hidupnya juga jadi berubah. Padahal, suami gue n gue ga pernah mengubah gaya hidup kami yang suka seenaknya. Jangan-jangan Mayumi memang punya otak yang bisa bekerja seperti otak manusia. Mungkin lebih terbatas, tapi kelakuannya jadi bikin gue bertanya-tanya tentang intelejensia kucing…
March 27, 2006
Kami sudah besar! | # |
Others — Administrator @ 2:17 am
Halo, ini aku, Ciku. Umurku udah 2 minggu. Aku udah bisa lari-lari lho. Udah bisa maem sendiri, aku paling suka jeli susu. Tapi, aku lebih suka susu mamaku. Aku suka lari-lari keluar tempat tidurku. Kalo mamaku liat aku di luar tempat tidur, pasti deh, aku diangkat masuk ke tempat tidur lagi. Padahal aku kan mau liat-liat dunia luar. Ini fotoku di atas tempat tidur nenekku. Aku sebenernya heran, kok nenek ga sama ya, seperti mama. Tapi gapapa deh, dia baik kok sama aku. Aku suka dikasih jeli susu pagi-pagi kalo aku bangun tidur. Nggg… sebenernya, aku masih tidur kok, waktu ada bau-bau jeli susu di deketku. Jadi, aku langsung bangun deh.
Halo juga, aku Cika. Badanku lebih besar dari adikku Ciku. Warnaku juga berbeda. Bukan hanya warna badanku, tapi juga warna mataku. Mamaku matanya sama seperti Ciku, tapi mataku berwarna merah. Keren kan. Nenek bilang aku istimewa. Aku udah bisa melakukan apa saja sekarang. Aku bisa naik tangga ke tempat makanan, aku juga udah bisa turun tangga, meskipun kadang-kadang aku masih suka jatuh juga sih. Aku pernah coba roda putarnya mama, tapi sepertinya aku belum sehebat mamaku. Tunggu ya, nanti juga aku bisa. Aku suka sekali lari-lari. Enak rasanya, tapi mama sepertinya ga ngerti deh. Dia suka nyuruh-nyuruh aku masuk ke tempat tidur lagi. Karena badanku berat, mama udah keberatan kalo nggendong aku. Jadi kadang-kadang, aku lari aja kalo mama nyuruh aku masuk tempat tidur lagi. Masak aku disuruh tidur terus. Aku kan udah bukan bayi lagi.
August 16, 2005
Now I know… | # |
Others — Administrator @ 11:43 pm
Sekarang gue tau apa yang gue dapetin dari dua hari seminar yang gue ikutin mulai dari kemaren. Banyak bo! Banyak!
Pertama, gue dapet kesempatan untuk belajar metode Appreciative Inquiry dengan 4D-nya yang bakalan bisa gue aplikasiin nantinya. Di metode ini, kelemahan ga disinggung-singgung. Kita emang ngeliat ke belakang, balik ke masa lalu. Ga untuk menyesal, tapi untuk mengambil apa yang terbaik yang pernah terjadi di masa lalu. Jelas ini sesuai dengan prinsip gue yang ga mo nyesel. Trus, dengan adanya partner yang ngebantu kita untuk menjawab pertanyaan, kita ngerasa bahwa kita punya temen. He…he…he… Yang bikin gue teringat bokap gue waktu gue ditanyain tentang pengalaman masa kecil gue yang paling berkesan. Untung partner gue juga nyeritain bokapnya. Jadi, gue ga ngerasa sendiri.
Masih tentang metode ini juga, kita kudu dengerin dan bisa menghargai pendapat orang lain. Belajar jadi a good listener dan memahami orang lain. Ga gampang ngalahin ego. Tapi ketika ego menjadi nomor dua, sebenernya kita bisa melihat lebih jelas.
Kedua, gue jadi punya temen-temen baru. Mulai dari mahasiswa sampe orang-orang yang udah ‘jadi’. Dan di mata gue, semuanya orang-orang hebat. Mereka orang-orang yang punya hati nurani yang peka, yang masih memikirkan nasib sesama, nasib bangsa. Aduh, gue jadi ngerasa ga ada apa-apanya.
Selainnya itu, gue malah ketemu sama temen-temen lama. Ga disangka-sangka aja. Dunia emang kecil ya. Pokoknya seneng banget.
Ketiga, gue jadi tau musti ngapain untuk membantu orang lain. Setiap orang di seminar itu punya gagasan yang hebat. Gue bener-bener pengen bisa berbuat sesuatu. Mungkin ga bakal bisa seperti Butet, atau se heboh Rama. Tapi mudah-mudah gue bisa melakukan sesuatu dengan cara gue sendiri yang sederhana.
July 29, 2005
Yang penting penyelesaiannya… | # |
Others — Administrator @ 7:59 pm
Bo! Mobil gue hari ini ditabrak. Begonya, mobil gue ditabrak di depan kantor gue. Belon keluar halamannya sedikitpun. Yang nabrak sih anak kecil (buat ukuran gue…
mahasiswa deh… Dia lagi meleng. Apes aja kali ye dia… sebenernya sih, gue juga lah ya…
Seperti biasa, my best sidekick (hi…hi..hi…) langsung turun n marah-marah. Gue ga bisa turun. Soalnya, dia tuh nabrak sisi kanan mobil gue, dan bikin pintu gue ga bisa dibuka. Tu anak ga mo terima n ga merasa salah. Untungnya, ada seorang bapak yang ga tau siapa (kayaknya bukan karyawan di kantor gue deh…) yang bilang, emang dia liat sendiri anak itu yang salah. Eh…dia masih ngotot juga. Gue hampir ikutan marah…
Acil langsung manggil bala bantuan. Niatnya sih, cuma manggil KD doang. Eh, yang keluar sekompi. Tinggal pilih! Mo yang ceking, apa yang gondrong mukanya serem, tapi kalo udah ngomong, ilang deh image seremnya. Wah, tu anak kayaknya agak jiper juga. Suaranya udah ga setinggi waktu dia ngotot sama Acil.
Trus, gue bilang, gue sebenernya ga mo marah. Cuma, pikirin aja caranya supaya pintu mobil gue bisa dibuka lagi. Dia bingung. Gue bilang, cari yang murah aja: ketok magic. Akhirnya dia setuju. Acil nemenin gue. Nah, yang bikin gue surprise, OJ nawarin diri nemenin juga. Duh OJ, maafin ya, kalo selama ini gue dengan kejemnya selalu ngeledekin elo…. 
Akhirnya mobil gue masuk bengkel di daerah Puri Indah. Biayanya ditanggung Yuda, demikian nama anak yang malang itu…. Setelah itu, gue minta dianter ke Mal Puri Indah. Bukan buat belanja seeeh…buat makan. Ternyata, setelah kesel, nafsu makan jadi meningkat ya… Bertiga makan di Solaria sambil ngeledekin Acil. Maaf ya Cil…
Jam setengah sepuluhan bertiga balik lagi ke bengkel. Nunggu bentar, trus…voila! mobilnya kelar deh. Ga semulus awalnya sih. Iya lah, namanya juga abis ditabrak. Pulangnya OJ nyetir sampe kantor. Soalnya dia ninggalin mobilnya di situ. Gue nganterin Acil sampe deket rumahnya. Samira, Yayah, KD n Jay nanyain kabarnya. Aduh guys, gue terharu…
So, I want to say thank you from the ‘bikini bottom’ of my heart, (where Spongebob and Patrick also live there), to Acil and OJ. I love you guys!
July 24, 2005
Half-blood Prince | # |
Others — Administrator @ 4:05 pm
Akhirnya Half-blood Prince, a.k.a. Harry Potter VI selesai juga dibaca. Lumayan. Tapi kok ga seru ya. He Who Must Not be Named malah ga nongol. yang nongol antek-anteknya doang. Mana akhirnya ada lagi yang meninggal… huuuu…
Tapi kalo dipikir-pikir. Si Rowling emang jago abis ya. Udah sampe beberapa tahun dia ga kehabisan ide juga. Yah, paling ga, masih ada harapan akhir yang bahagia buat si Harry deh. He…he..he… Yang ini sih, harapan pribadi gue deh, kayaknya….
Kalo mo ngintip plot ceritanya, baca aja di: http://en.wikipedia.org/wiki/Harry_Potter_and_the_Half-Blood_Prince