My husband thought that I was so happy about my going to Balikpapan. Well, as always, men thought they know about everything. They not!
What he doesn’t know is I have this struggle in me. Because Balikpapan keeps bad memories as well as the good ones. I remember once I shivered when my planed had landed on Balikpapan. Sometimes I felt I didn’t want to come back there after having my exams in Jakarta. Manytimes I drew pictures to describe my sad feeling which I couldn’t express orally anymore. Sometimes I thought about running away from that place. And the most terrible of all was my body reacted to the situation badly: my hormones structure had changed.
Maybe I should remember the good times too. I had (still have) some good people there. Friends who used to cheer me up and give me strength. People who used to bring smile on my face. And some of them still dwell there. For them I try to collect all good memories. I’m excited to meet them again. This time I make sure they know how grateful I am.
Selain dunia ini berputar, dunia ini ternyata penuh kejutan.
Dua hari yang lalu sewaktu gue sendirian ke ITC Cemas, gue kudu buka puasa sendirian. Gue masuk ke salah satu resto yang ada di situ yang ternyata penuh nuh nuh nuh. Setelah ngantri cukup lama dan ngebatalin puasa pake butiran nasi, gue akhirnya diminta duduk bersama seorang perempuan yang gue ga kenal. Itu cuma karena dia makan sendiri dan bangku di depannya kosong. Ya sudahlah, namanya juga emergency.
Awalnya basi banget. Senyum-senyum sambil nawarin makan yang basa-basi. Iya lah. Mana rela gue kalo makanan gue beneran diambil. He…he…he… Lalu kami berdua makan dengan hikmat dalam diam, mengutamakan untuk memenuhi tuntutan perut. Setelah makanan di piring mulai kosong. Iseng-iseng gue melontarkan pertanyaaan yang ga kalah basinya: “Kantornya di sini?”
Dari satu pertanyaan iseng itu pembicaraan mulai mengalir. Terlebih lagi setelah anggota meja sebelah yang kebeneran mendengar alamat rumah Dety, nama perempuan itu, ikutan nimbrung. Meja sebelah dihuni sepasang mahasiswa Trisakti semester 4, Angga dan Ida. Lalu pembicaraan mulai merambah ke ranah pribadi: curhat gebetan! Ha….ha…ha… Perbincangan seru ke-empat orang ‘asing’ ini akhirnya harus berakhir dengan pelototan pramusaji yang melotot sambil modar-mandir gara-gara dia ga rela pengunjung yang udah selesai makan tetap duduk di tempatnya lebih dari 30 menit!
Aneh, unik, tapi ternyata membahagiakan. Karena udah lama gue ga ngerasa hal yang seperti ini. Orang Indonesia kan kudunya (karena terkenal) ramah tamah. Tapi setiap kali kita ketemu orang yang ga dikenal kita pasti pasang tampang curiga. Hari itu, gue merasa, beginilah seharusnya orang Indonesia. Bertegur sapa, saling memberikan ruang untuk hadirnya orang baru dalam kehidupan kita. Memang, selagi kita masih hidup, akan ada aja kejutan. Dan kejutan yang satu ini benar-benar menyenangkan.
Salah satu bukti bahwa dunia berputar adalah gue bakal ke Balikpapan Senin mendatang ini. Ceritanya begini:
Beberapa bulan lalu, gue ditelpon sama seseorang dari sebuah perusahaan media. Dia minta gue ngirim CV n contoh tulisan. Ya gue kirim aja. Pan ga ada ruginya ini, gue pikir. Beberapa bulan berlalu, gue ga denger kabar apa-apa. Eh, pas gue lagi seneng-seneng bareng temen-temn gue di Ranah Minang, dia nelpon lagi, minta ketemu. Jadilah gue janjian ketemu dia sepulang dari sana.
Sampe di sana, dia ngejelasin kalo mereka itu ngerjain internal magazine. Ketika disodorin majalahnya, gue malah cengengesan. Gimana ga? Majalah itu ternyata majalahnya Total tempat di mana suami gue kerja dulu. Gue bahkan pernah tinggal 4 tahun di Balikpapan. He…he…he…
Dan minggu ini dia bilang gue ditugasin meliput ke Balikpapan minggu depan. Ha…ha…ha…
Bo, perasaan gue campur aduk. Seneng, karena gue bakal ngeliat Balikpapan lagi. Bingung, soalnya subyek yang kudu gue tulis ga gue ngerti sama sekali. Penasaran, apakah gue bisa ngambil foto yang bagus (secara gue pengen banget nulis tentang Indonesia n lengkap sama foto2nya). Wah… I think I need a good luck nih.
Kemarin, ibunda seorang sahabat masa remaja gue meninggal dunia. Begitu ditelpon gue langsung loncat ngambil handuk dan mandi. Ga sampe 1 jam kemudian gue dah nyampe ke RS Pelni, tempat ibunda sahabat gue ini menghabiskan saat-saat terakhirnya.
Saat sedang menunggu dan bingung musti ngapain, kilasan kenangan datang menyapa. Jadi tiba-tiba inget betapa mereka pernah menjadi bagian hidup gue. Bukan sekali dua kali gue merasakan kehangatan dan keramahan keluarga mereka. Semua itu terjadi ketika gue SMA hingga kuliah.
Buat seorang anak yang hidup terpisah dari orang tuanya, makan bersama orang tua - meskipun itu bukan orang tuanya sendiri - adalah saat yang membahagiakan. Gue jadi inget saat-saat yang dihabiskan bersama di meja makan bersama mereka.
Bertahun telah berlalu, jalan hidup telah terpecah. Sahabat gue dan gue punya hidup masing-masing. Sesekali hanya berbicara lewat telepon. Namun percayalah sahabat, tak mudah melepas kenangan yang sangat indah. 
To Eka: be strong, Bek. Your mom is in a better place now. Together with your dad, they will always watch and guard your with their love.
Asyiiiik!
Akhirnya niat liburan gue kesampean juga. Hore! Hore! Hore! Sumatera Barat yang jadi tujuan. Dengan teman-teman yang senasib sepanggungan, sehati dan sekamar (di sono), Acil, Laila, Andam, Yayah, dan Agus (yang terakhir ini sebenernya temennya Acil yang ngegantiin suami gue yang tadinya berniat ikut), gue mengalami perjalanan yang seru, menegangkan tetapi sangat membahagiakan.
Setiap detik terasa begitu berharga. Terasa kecil diri ini di tengah badai di pulau, terasa kecil diri ini di hamparan sawah di kaki bukit. Terasa begitu beruntungnya gue masih diberi kesempatan merasakan nikmat, berkah, dan anugerah sang Kuasa. Boooo… tiba-tiba aja gue jadi puitis 
Ma kasih ya, Cil, Ndam, Yah, La, n Gus, buat semua yang telah kita lalui bersama. I can’t hardly wait for our next adventure