14 tahun lebih 4 bulan lalu, waktu gue masih tinggal di Balikpapan, Ana pulang ke rumah gue dengan berteriak: “Bu, Ana bawa sesuatu!” Sesuatu itu ternyata seekor anak anjing hitam yang dekil dan kurus. Sepertinya dia agak ketakutan. Langsung gue gendong. Ternyata dia kutuan! Dengan tampang yang lucu, dia berusaha melepaskan dirinya dari gendongan gue. Sejak saat itu, dia tinggal di rumah gue. Namanya Motoki, atau biasa gue panggil Totto.
Motoki: nama yang artinya “lembut hati”. Mungkin memang ga terlalu cocok buat seekor anjing. Totto kecil tumbuh dengan menyukai pisang. Di kemudian hari, dia juga suka duren. Kalau berantem ga pernah menang. Saking lembut hatinya, dia selalu membiarkan kucing liar untuk makan makanan-nya, barulah kemudian dia makan sisanya. Dia juga membiarkan Hatori untuk ngempeng dan tidur dalam pelukannya.
Perjalanan hidup Totto cukup panjang. Dia ikut pindah dari Balikpapan ke Cilegon. Di airport, dia jadi tontonan orang karena dia sekandang dengan Hatori, yang merupakan seekor kucing. Di Cilegon, Totto menemani Oi (Hatori) membesarkan anak-anaknya. Dari Cilegon, Totto ikut pindah ke Jakarta. Sempat dititipkan di rumah Nyokap gue selama 2 tahun, sebelum akhirnya tinggal bareng lagi ketika gue pindah ke Sunter.
14 tahun buat anak manusia adalah masa yang cukup panjang. Seorang anak mungkin sedang bersekolah di tingkat SMP. Tapi buat seekor anjing, 14 tahun sama artinya dengan 98 tahun umur manusia. Organ-organ tubuh tidak lagi dapat bekerja dengan sempurna. Setelah ga mo makan selama 12 hari, dua kali ke dokter, dan akhirnya dengan hasil tes darah yang membuat dokter angkat tangan, hari Minggu tanggal 3 Juni 2007, Totto tertidur panjang. Panjang sekali.
Totto, mencintaimu adalah luka-luka di tangan, karena kau memilih untuk bermain dengan tanganku daripada bola dan tulang karet yang kubelikan.
Mencintaimu adalah tak bisa tidur nyenyak ketika hujan karena kau menangis tak berhenti.
Mencintaimu adalah membiarkan kusen-kusen pintu rusak karena gigitanmu.
Mencintaimu adalah tangisan tak terbendung kala tak lagi mampu melindungimu.
Mencintaimu adalah beribu kata cinta tanpa pernah berharap kau akan mengatakannya kembali.