Ga jadi resign.
Akhirnya, setelah ngomong 1,5 jam sama bos besar, gue malah merasa gue seharusnya berdoa, “Ya Tuhan, maafkanlah orang yang bersalah padaku, karena memang ia tidak tahu kalau dia berbuat salah.”
Nah lho!
Memaafkan adalah urusan yang serius. Gampang diucapin, tapi susah banget dah, buat dilaksanain. Boro-boro bisa ngasih pipi kiri kalo pipi kanan ditabok! Bawaanya kan pengen nampol balik tuh. Hi…hi…hi… Itulah!
Mungkin gue musti memaafkan diri sendiri dulu. Berdamai dengan hati, supaya mau memolorkan sedikit lagi batas toleransi. Duh Gusti, susah banget yak
With the resignation letter on my hands, I’m ready!
The result of an online test I’ve just taken:
| You Are 50% Left Brained, 50% Right Brained |

The left side of your brain controls verbal ability, attention to detail, and reasoning.
Left brained people are good at communication and persuading others.
If you’re left brained, you are likely good at math and logic.
Your left brain prefers dogs, reading, and quiet.
The right side of your brain is all about creativity and flexibility.
Daring and intuitive, right brained people see the world in their unique way.
If you’re right brained, you likely have a talent for creative writing and art.
Your right brain prefers day dreaming, philosophy, and sports. |
Just try it and have fun!
Bos gue, yang umurnya setahun lebih muda daripada gue, hari ini berulang tahun. Alih-alih ngasih kado, hari ini gue ngasih beban buat dia. Gue udah menyatakan ke-ga-setujuan gue sama kotrak yang dibuat sepihak itu. Lebih tepatnya, gue menolak untuk menanda-tanganinya. Dan dia musti nyampein kabar ga enak ini ke bos gede. Udah kebayang sama gue kesulitan yang bakal dia hadapi.
Kalo bos gue ini punya account di friendster, gue ga bakal ragu ngasih komen kalo dia adalah bos terbaik sepanjang sejarah gue bekerja. Dan sekedar info, gue udah gonta-ganti kerjaan lebih dari 10 kali, alias udah pernah ketemu lebih dari 10 macem bos. Bos-bos gue yang lain biasanya lebih tua, ato paling ga seumur sama gue. Dan biasanya gue susah respek sama orang yang umurnya lebih muda daripada gue. Apalagi cowok. Kalo yang ini bukan karena gue sexiest ato feminis, tapi gue tau kalo perempuan punya kematangan mental lebih tua 2 tahun dari lelaki. Tapi bos gue ini secara mental sepertinya malah lebih tua 5 tahun dari umurnya.
Yang bikin gue salut sama dia, dia tuh bisa membuat orang melakukan sesuatu tanpa menyuruh orang itu. Kalo istilah temen gue Acil, “He knows which button to push.” Dia ga pernah ngeributin soal kerjaan. Paling cuma nanya-nanya dia bisa bantu apa. Gue juga jarang banget liat mukanya mumet di kantor.
Si bos yang punya 3 anak perempuan ini pernah bilang sama gue, “Fi, kalo cuma soal kerjaan, gue ga bakal pusing. Tapi kalo anak sakit ato ada apa-apa di rumah, itu baru masalah buat gue.” Nah lho! Haree genee ada laki yang kaya’ gitu?! Waaah specimen langka tuh! Dia bakal ga masuk kantor kalo anaknya sakit, ato pembantunya mudik.
Nah, mengingat semua kebaikannya itu bikin gue merasa bersalah dan sedih banget telah menempatkan dia di posisi yang sulit. Sekarang sih gue berdoa, semoga dia diberi kemudahan dalam menyampaikan keberatan anak-anak buahnya. Semoga dia juga diberi kemudahan dalam segala hal di dalam hidupnya. Semoga dia selalu diberi kebahagiaan dunia dan akhirat. Semoga anak-anaknya menjadi anak-anak yang sholehah dan berhasil dalam hidup mereka. Semoga dia dan istrinya selalu diberi berkah, rahmat, dan hidayah.
Bos, selamat ulang tahun ya.
Baru-baru ini ada kabar yang ga enak dari temen kantor. Katanya di dalam kontrak nanti bakal ada pasal tambahan mengenai kerjaan tambahan buat editor. Katanya, secara resmi kita bakalan juga bertanggung jawab sama events dan juga nyiapin materi alias lesson plans buat para guru-guru dalam rangka jualan majalah.
Sebenernya sih, selama ini juga kita udah ngelakuin semua yang diminta tanpa dimasukin ke dalam kontrak. Semuanya dilakukan dengan sukarela, ga ngarepin imbalan, lantaran tau kalo perusahaan emang lagi cekak. 
Tapi masalahnya, kalo hal itu dimasukin di dalam kontrak, hal itu bakal jadi kewajiban dan unsur fun-nya bakal ilang deh. Nah, kalo unsur fun-nya dah ga ada, perasaan kenyamanan itu jadi ilang juga deh. Trus jadi mikir, buat apa sih orang kerja?
Setelah memikirkan selama beberapa jam, akhirnya gue berkesimpulan bahwa orang bekerja adalah untuk kenyamanan. Punya uang juga termasuk kenyamanan – kenyamanan finansial. Diakui hasil karya dan eksistensinya termasuk kenyamanan sosial. Kenyamanan juga berarti kenyamanan secara psikologis. Kenyamanan bukan hanya tujuan tetapi merupakan unsur penting dalam pencapaian tujuan.
Trus, gue nanya lagi, kenapa kok gue betah banget sih di tempat yang gue ga dapet kenyamanan finansial-nya (sampe-sampe gue kudu nyari di tempat laen)? Ya, karena gue masih bisa mendapatkan unsur-unsur kenyamanan yang lainnya. Sosial, misalnya. Temen-temen dan bos satu tim yang emang udah kompak banget. Yang jadi masalah sekarang adalah, kenyamanan psikologis gue terganggu. Artinya gue harus melakukan sesuatu. Entah itu memperbaiki kenyamanan di tempat kerja gue atau mencari kenyamanan itu di tempat lain. Only time will tell…