Menonton di bioskop buat gue adalah suatu kemewahan. Suatu hal yang jarang banget gue lakukan, kecuali kalo gratis sambil ngejalanin tugas. Jadi, kalo sampe kejadian, gue bener-bener berharap bahwa film yang bakal gue tonton itu bisa membuat gue mengangkat jempol ![]()
Setelah memutuskan akhir minggu ini jadi akhir minggu berdua tanpa anak-anak, suami dan gue akhirnya punya waktu buat ngelakuin hal-hal yang jarang bisa kami lakukan, terutama kalo hari kerja. Seperti pergi ke bioskop itulah. Apalagi beberapa minggu sebelum ini gue dapet beberapa imel yang membuat gue pengen banget tau, kaya’ apa sih, megablitz itu. Sampe sana, ternyata pilihan fim-nya emang banyak banget. Setelah ngeliat2 poster film yang ada, akhirnya pilihan dijatuhkan pada Nagabonar Jadi 2.
Kalo menurut gue, film ini adalah film cinta. Yup, film cinta. Tapi bukan cinta monyet atau cinta gampangan anak-anak muda sekarang. Cinta dalam film ini adalah cinta yang lebih besar lagi. Cinta seorang lelaki pada ibu, istri, sahabat, serta anak satu-satunya yang dia besarkan sendiri sejak anak itu dilahirkan karena ibunya langsung meninggal sesaat setelah melahirkan. Saking cintanya pada anaknya, dia sampe akhirnya merelakan makam ketiga orang yang dicintainya untuk dipindahkan. Meski dikatakan dengan genangan air mata di sudut mata. Bukan itu saja, lelaki ini juga begitu cinta pada negaranya, sehingga ketika anaknya akan melakukan kerjasama dengan negara asing yang dulunya berstatus penjajah, dia merasa seperti akan mengkhianati negaranya sendiri. Sang anak juga bukan si malin kundang. Dia juga cinta sang ayah, juga cinta pada seorang perempuan yang selama ini selalu memberinya saran. Celakanya, sang ayah dan anak sama-sama punya kekurangan dalam mengungkapkan cinta secara verbal pada perempuan pilihan mereka.
Deddy Mizwar yang bertindak sebagai sutradara dan pemeran utama dalam film ini pandai mengaduk-aduk perasaan orang. Saking pinternya, beberapa kali gue nangis. Padahal sejatinya film ini bukan film drama percintaan, tapi film komedi. Tora Sudiro sebagai anak juga lumayan bagus. Beberapa juga aktris dan aktor pendukung yang lainnya. Hampir semua bermain natural. Kritik mungkin diberikan pada Uli Herdinansyah yang berperan sebagai Ronnie, salah seorang tangan kanan Bonaga (anak Nagabonar) yang bermain sedikit over. Bahkan Jaja Miharja yang berperan sebagai bencong juga patut diacungkan jempol atas aktingnya yang bisa bikin orang-orang normal jijay ![]()
Adegan kesukaan gue adalah ketiga Nagabonar mempertanyakan kenapa bajaj dilarang memasuki jalan Sudirman-Thamrin pada seorang polisi yang ga bisa menjawab alasan pelarangan itu. Meski ada beberapa adegan yang ga masuk akal - misalnya kenapa ga ada polisi yang langsung nyuruh Nagabonar turun dari patung Jendral Sudirman yang ada di jalan Sudirman itu, secara keseluruhan film ini boleh dikatakan berhasil menceritakan cinta itu sendiri. Satu film dengan tema yang sama dengan film-film Indonesia yang sedang beredar saat ini, namun dengan cerita dan kedalaman makna yang jauh berbeda. Salut buat Deddy Miswar!