August 3, 2005

Sejauh mana kita bisa bahagia? | # | My Friends — Administrator @ 10:11 pm

Seorang teman sedang berbahagia. Di saat yang sama, seorang teman yang lain sedang bersedih. Karena hal yang sama. Seperti ketika kita sedang makan sepiring nasi lengkap dengan lauknya yang istimewa. Ketika makanan di piring hampir habis, kita bisa merasa senang karena kita telah kenyang, atau kita juga bisa merasa sedih karena lauk yang enak itu hampir habis.

Jadi, sejauh mana suatu hal dapat membuat orang merasa senang atau sedih? Tiap-tiap kejadian dalam kehidupan ini punya dua sisi yang saling berlawanan. Ebony and ivory (Stevie Wonder - tadi baru ngedenger lagu itu di kantor), yin dan yang, siang dan malam. Mungkinkah kita bisa membaurkan batas di antaranya, sehingga kita tidak merasa terlalu gembira, dan juga tidak merasa sedih?

Keseimbangan yang absolut tidak akan pernah tercapai di dunia ini. Bukan skeptik atau pesimis. Dunia diciptakan untuk selalu bergejolak. Gejolak itulah yang membuat manusia selalu berusaha untuk menyeimbangkan keadaan. Berjuang, untuk mendapatkan kebahagian.

Sekali lagi, tidak pernah ada keseimbangan yang absolut. Meski kita tidak pernah ingin melukai orang yang kita kasihi, kita selalu melakukannya. Kemungkinan terbesar adalah karena kita tidak menyadarinya. Menyadari betapa besar arti orang itu dalam hidup kita. Jika suatu saat dia akan atau sudah pergi, barulah kita menyadari betapa sia-sia waktu yang telah diberikan pada kita. Waktu yang seharusnya selalu kita pergunakan dengan sebaik-baiknya.

Dua orang teman dalam satu cerita. Yang satu bahagia, yang satu berduka. Akankah mereka tertawa bersama?

 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here