July 17, 2005

‘Regret’ is a word that we shouldn’t use | # | About me — Administrator @ 9:49 pm

Sesal…menyesal…penyesalan…
apapun bentuk turunan kata itu, gue selalu menghindari untuk memakainya.
Buat gue, sesal adalah bentuk kecerobohan kita sendiri. Misalnya aja, ketika kita menyesal ga bisa menuangkan empati yang lebih pada teman, dan akhirnya kita ga punya lagi waktu untuk bisa berkata-kata, sesungguhnya pada saat dia membutuhkan, kita punya pilihan: be there, or not to be there. Suatu pilihan yang jelas. Hanya saja, kita terkadang merasa kita masih punya waktu.
Benarkah?

Waktu bukanlah milik kita. Dia tidak berpihak pada siapa-siapa. Ia hanya berjalan lurus, tanpa memiliki anak emas, juga anak tiri. Kitalah yang semestinya bisa menangkap waktu, dan mempergunakannya, selagi kita mampu.Ketika kita memilih untuk menunda sesuatu yang sebenarnya bisa kita lakukan hari ini, kita mulai menumpuk beban penyesalan yang akan kita tuai kelak.

Kalo gue ditanya, apa yang paling gue hindari dalam hidup gue, maka jawaban gue adalah satu: gue ga ingin menyesal. Bukannya gue sombong, atau terlalu pede. Cuma, sikap itu musti gue tanamkan dalam diri gue, bahwa gue harus selalu berhati-hati dalam membuat pilihan. Dan kalo ternyata apa yang telah gue pertimbangkan juga ternyata salah, gue musti terima, tanpa penyesalan. Karena gue harus yakin, dan Insya Allah akan selalu yakin, hidup gue bukan punya gue. Gue hidup karena Tuhan, gue hidup di jalan Tuhan, dan gue hidup buat Tuhan. Hik…berat amat yak! Ga juga sih. Gue sih enjoy aja…

Btw, tulisan ini sengaja gue buat, soalnya, dalam dua hari ini, dua kali gue ngebaca tulisan tentang penyesalan. Tulisan-tulisan itu kembali menyadarkan gue tentang pilihan hidup yang musti gue jalani, tanpa penyesalan.

 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here